FUAD IAIN Ternate Gelar Bedah Buku Mengupas Nilai Sejarah dan Warisan Budaya Ternate-Tidore
Keterangan Foto: Sang penulis buku, Usman Nomay, S.Ag., M.Pd bersama pemerhati sejarah dan budaya Maluku Utara, Rustam Abd Gani Lating, S.H., M.H, Akademisi Universitas Khairun Ternate, Drs Nani Jafar, MA dan Akademisi IAIN Ternate, Prof Dr H Jubair Situmorang, M.Ag.
TERNATE – Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Maluku Utara, menggelar acara bedah buku karya dosen FUAD, kamis (23/4/2026).
Acara yang berlangsung di auditorium IAIN Ternate itu, menghadirkan sang penulis buku, Usman Nomay, S.Ag., M.Pd pemerhati sejarah dan budaya Maluku Utara, Rustam Abd Gani Lating, S.H., M.H, Akademisi Universitas Khairun Ternate, Drs Nani Jafar, MA dan Akademisi IAIN Ternate, Prof Dr H Jubair Situmorang, M.Ag.
Pelaksanaan acara bedah buku diawali dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara FUAD IAIN Ternate dengan Fakultas Ilmu Pendidikan (ISDIK) Kie Raha Maluku Utara dan Fakultas Ilmu Budaya Unkhair Ternate.
Acara bedah buku tidak hanya dihadiri oleh akademisi dan mahasiswa IAIN Ternate, melainkan keterwakilan akademisi serta mahasiswa pada beberapa kampus yang ada di kota Ternate. Selain itu, pihak penyelenggara juga mengundang sejumlah tokoh penting di Maluku Utara.
Dalam kesempatan tersebut, sang penulis buku, Usman Nomay menyampaikan bahwa To Sela-Sela Limau Gapi, merupakan istilah dari falsafah kesultanan Ternate.
Dia menjelaskan, Limau Gapi melambangkan Ternate sebagai pusat kekuasaan dan peradaban, dan To Sela-Sela Limau Gapi berarti orang-orang yang berada dalam inti kekuasaan Ternate, yakni kelompok masyarakat adat, elit adat atau perangkat kerajaan yang memiliki peran langsung dalam pemerintahan, budaya, dan struktur sosial kesultanan.
“Falsafah ini mencerminkan struktur sosial, hubungan kekuasaan, dan jaringan kultural dalam masyarakat Maluku Utara yang saling terhubung antara pusat dan daerah sekitarnya,” jelasnya.
“Sementara Limau Duko, merupakan sebuah ruang angkasa atau negeri Duko,” imbuhnya.
Usman menerangkan, To Sela-Sela Limau Gapi dan To Sela-Sela Limau Duko menggambarkan pembagian peran dalam struktur sosial dan kekuasaan masyarakat Maluku Utara. Limau Gapi melambangkan pusat kekuasaan (Ternate), sedangkan Limau Duko menunjukkan wilayah Tidore.
“Dengan demikian, kedua konsep ini menegaskan bahwa kehidupan masyarakat tersusun dalam hubungan yang saling melengkapi antara pusat dan daerah pendukung, di mana setiap kelompok memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan, persatuan, dan keberlangsungan sistem sosial-budaya,” terangnya.
Lebih lanjut, dosen Sejarah Peradaban Islam IAIN Ternate itu, menjelaskan Falsafah Jou Se Ngofangare merupakan nilai dasar kehidupan masyarakat di Ternate dan Tidore yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan sesama.
“Secara sederhana, Jou berarti Tuhan (penguasa tertinggi), sedangkan Ngofangare berarti manusia atau rakyat,” ujarnya.
Usman bilang, falsafah ini mengandung makna bahwa kehidupan manusia harus selalu berlandaskan pada kehendak Tuhan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebersamaan.
Selain itu, kata dia, dalam praktiknya, masyarakat diajarkan untuk hidup saling menghormati, menjaga persatuan, serta tunduk pada nilai-nilai adat dan ajaran Islam.
Usman bilang, sebagai akar budi (pandangan hidup), Jou Se Ngofangare juga menjadi dasar dalam sistem sosial dan pemerintahan kesultanan, di mana pemimpin dipandang sebagai wakil Tuhan yang wajib melindungi dan mengayomi rakyatnya secara adil. Sebaliknya, rakyat berkewajiban menjaga keharmonisan, taat pada norma, dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
“Singkatnya, falsafah ini mencerminkan keseimbangan antara ketuhanan, kemanusiaan, dan tatanan sosial, yang menjadi identitas budaya masyarakat Ternate–Tidore hingga saat ini,” tandasnya. (*)