Catatan untuk Dies Natalis Ke-12 IAIN Ternate (10 Januari 2014 – 10 Januari 2026 ) -- Program Doktor Jadi Kado Spesial Dies Natalis Ke-12 IAIN Ternate --
Keterangan Foto: Menteri agama Suryadharma Ali saat berjalan menuju gedung VVIP Bandara Baabullah Ternate, Jumat (10/1/2014). Foto: Hilman Idrus
-- Catatan untuk Dies Natalis Ke-12 IAIN Ternate (10 Januari 2014 – 10 Januari 2026 ) --
Suasana gedung Very very important person (VVIP) bandara Baabullah Ternate pada jumat (10/1/2014) pagi mendadak ramai, dipenuhi para pejabat dari pemda provinsi Maluku Utara dan kota Ternate.
Mereka memakai setelan jas yang terlihat mahal dan rapi, ada yang duduk di kursi sofa sambil bercengkerama, dan yang lainnya berdiri di depan gedung VVIP menunggu kedatangan ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy.
Mereka di antaranya penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo bersama Sekda Madjid Husein, Wali kota Ternate Burhan Abdurrahman, Kakanwil Agama Maluku Utara H.M Taher Abdullah, Kabag Administrasi STAIN Ternate Ibrahim Muhammad, Danrem 152 Baabullah, Danlanal Ternate, Kapolda Malut, Ketua DPW PPP Malut Ridwan Tjan beserta Muspida Kota Ternate dan Pemda Maluku Utara.
Sementara tepat di depan pintu masuk gedung VVIP bagian timur, ada 24 orang wanita berusia 50-an berbusana putih dengan balutan syal batik warna biru bermotif bunga matahari, mereka berdiri dengan posisi memagari jalan di depan gedung VVIP sambil memegang rabana. Mereka siaga melantunkan salawat menyambut dan mengiringi Menteri Agama dan rombongan menuju ruang VVIP.
Tak berlangsung lama, mobil dinas yang ditumpangi ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy bergulir menuju depan gedung VVIP dan disambut para pejabat yang terlebih dahulu siaga di gedung VVIP.
Berada di ruang VVIP, mereka dijamu dengan sarapan pagi oleh tiga wanita paruh baya yang ditugaskan melayani konsumsi di VVIP. Sementara tepat di depan gedung VVIP, dua gadis belia dengan balutan busana adat Ternate berwarna hijau, berdiri dengan sebuah baki di tangan yang berisi bunga kalungan berwarna merah muda.
Pagi itu, dengan cekatan saya mem-framing momen-momen istimewa di dalam gedung VVIP, sambil menunggu komando dari ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy untuk bergegas keluar dari ruangan VVIP, jika pesawat yang ditumpangi Menteri Agama Suryadharma Ali dan rombongan mendarat di landasan pacu bandara Baabullah Ternate.
Sementara di kelurahan Dufa-Dufa Ternate Utara tepatnya di kampus STAIN Ternate, para tamu undangan sudah memadati halaman kampus, terlebih di dalam aula Baabullah, para tamu: pimpinan Perguruan Tinggi di Maluku Utara, maupun sejumlah pimpinan PTKIN dari luar Maluku Utara, di antaranya Rektor IAIN Jambi, Rektor IAIN Bengkulu, Ketua STAIN Palopo, Ketua STAIN Pare-Pare, Ketua STAIN Bone serta Rektor Universitas Muhammadiyah (UMMU) Maluku Utara Kasman H. Ahmad, Rektor Universitas Khairun Husen Alting, dan tokoh Masyakarat, serta tokoh agama antusias menyambut kehadiran Menteri Agama Suryadharma Ali beserta rombongan dan Ketua STAIN Ternate.
Tepat pada pukul 08.10 wit, pesawat Garuda Indonesia bernomor registrasi PK-GHX mendarat di landasan pacu bandara Baabullah, pesawat tersebut ditumpangi menteri Agama Suryadharma Ali dan rombongan, sontak para pejabat bergegas keluar dari dalam ruang VVIP.
Kala itu, tidak semua pejabat di gedung VVIP diperkenankan beranjak turun ke landasan pacu bandara, hanya penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo, Ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy, dan saya selaku fotografer kampus yang ditugaskan meliput prosesi penjemputan Menteri Agama dan rombongan.
Begitu Menteri Agama Suryadharma Ali, dan Sekjen Kemenag Nur Syam, serta Direktur Pendidikan Tinggi Islam Dede Rosada dan beberapa staf menteri dan sekjen menuruni tangga pesawat, lalu disambut oleh penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo, dan ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy.
Menteri Agama Suryadharma Ali dan Sekjen Kemenag Nur Syam serta Direktur Pendidikan Tinggi Islam Dede Rosada, kemudian berjalan menuju ke gedung VVIP dan disambut oleh para pejabat yang sedari tadi menunggu di depan gedung VVIP, kalungan bunga berwarna merah muda yang dipegang dua gadis belia tadi, akhirnya mendarat di leher menteri Agama Suryadharma Ali, diringi lantunan salawat oleh ibu-ibu majlis ta’lim mengiringi perjalanan Menteri Agama dan rombongan menuju ke gedung VVIP.
Sekira 30 menit, Menteri Agama berada di dalam ruang VVIP, sementara dua gadis belia dan para ibu majelis ta’lim tadi terlebih dahulu meninggalkan lokasi bandara dan kembali pulang ke kampus untuk menyambut menteri dan rombongan di kampus.
Seusai Menteri Agama dan rombongan dari Jakarta menyantap hidangan pagi di ruang VVIP, tak menunggu lama, penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo, Ketua STAIN Ternate Dr Abd Rahman Ismail Marasabessy beserta Muspida Kota Ternate dan Pemda Maluku Utara meninggalkan gedung VVIP dan menuju ke kampus STAIN Ternate.
Ketika mobil yang ditumpangi Menteri Agama Suryadharma Ali dan rombongan mencapai halaman kampus, lalu Menteri Suryadharma Ali, Sekjen Kemenag Nur Syam dan Penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo, serta ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy, kemudian berjalan dengan iringan salawat dari ibu-ibu majlis ta’lim menuju Aula Baabullah STAIN Ternate.
Keriuhan kala itu memang begitu emosional, lantaran momen yang ditunggu-tunggu; peresmian peralihan status STAIN menjadi IAIN Ternate dan pelantikan rektor Abd Rahman Ismail Marasabessy akhirnya terwujud.
Halaman kampus kala itu riuh dan padat, sebuah penyambutan yang hangat menciptakan sejarah baru menandai babak baru perjalanan almamater tericinta. IAIN Ternate.
Mata sivitas akademika STAIN Ternate kala itu kompak menatap satu arah, meyaksikan Menteri Suryadharma Ali, Sekjen Kemenag Nur Syam dan Penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo, serta ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy mengayun langkah menuju Aula Baabullah STAIN Ternate dengan getaran kehangatan penyambutan.
Riuhnya suasana di depan Aula Baabullah disambut lontaran senyum yang terus diperlihatkan Menteri Suryadharma Ali menciptakan atmosfer keakraban yang hangat dan mengesankan.
Sementara di dalam Aula Baabullah, senyum-senyum bahagia bertebaran di antara tamu undangan mengiringi Menteri Suryadharma Ali, Sekjen Kemenag Nur Syam dan Penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo, serta ketua STAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy menuju ke kursi VVIP Aula Baabullah.
Dan’ acara pun bergulir sesuai rencana, tepat pada pukul 9.22 wit, prosesi peresmian STAIN Ternate menjadi IAIN Ternate dan pelantikan rektor berlangsung. Abd Rahman Ismail Marasabessy akhirnya resmi dilantik menjadi rektor pertama IAIN Ternate dengan masa bakti 2014-2017.
Peresmian IAIN Ternate ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Agama, lalu pemukulan Tifa (Gong) yang dilakukan Menteri Agama, Penjabat Gubernur Maluku Utara dan Wali kota Ternate dan didampingi Rektor IAIN Ternate. Suara Tifa disambut riuh tepuk tangan dan seruan hangat menyembul memenuhi Aula Baabullah membuka babak baru perjalanan kampus yang berdiri pada 1965.
Setelah momen pemukulan Tifa, dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat tanah seluas 19,6 hektar di desa Dodinga Kecamatan Jailolo Selatan, kabupaten Halmahera Barat oleh Penjabat Gubernur Maluku Utara Tanribali Lamo kepada Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai lokasi kampus baru IAIN Ternate.
Dalam sambutan seusai peresmian peralihan status STAIN menjadi IAIN dan pelantikan Rektor IAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy, Menteri Agama Suryadharma Ali menyampaikan bahwa peralihan status STAIN ke IAIN menjadi hari istimewa, yang dirasakan oleh masyarakat Maluku Utara dan keluarga besar STAIN Ternate.
Menteri Agama bilang, alih status harus dimaknai sebagai transformasi berpikir, di samping memperkuat landasan pijak untuk memulai langkah-langkah besar merealisasikan cita-cita dan gagasan di balik pendirian IAIN Ternate.
Sementara itu, Rektor IAIN Ternate Abd Rahman Ismail Marasabessy dalam sambutannya mengatakan, siap mengembangkan IAIN Ternate sebagai sebuah kelembagaan yang bisa menyentuh peradaban di daerah kepulauan di Maluku Utara.
Seusai prosesi peresmian dan pelantikan Rektor, Menteri Agama Suryadharma Ali lalu menyalami Rektor Abd Rahman Ismail Marasabessy dan istrinya, Hj. Masita Umarella dan para pejabat beruntun menyalami dan saling melempar senyum hangat dan keakraban.
Sementara para undangan lainnya serta sivitas akademika IAIN Ternate yang duduk patuh menyaksikan momen penuh keakraban itu, akhirnya menyeruak siap menyelami Menteri Agama yang hendak beranjak dari Aula Baabullah menuju ke lantai II gedung Rektorat IAIN Ternate.
Momen yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba, mereka berdiri menebar senyum dan menyodorkan tangan saat Menteri Suryadharma Ali berjalan keluar dari Aula Baabullah menuju lantai II gedung Rektorat untuk menyantap jamuan makan siang, yang sudah disiapkan oleh panitia, serta meladeni para awak media.
Dan’ setelah menyantap makan siang dan meladeni para jurnalis, Menteri Agama beserta rombongan kemudian bergegas menuju Bandara Baabullah yang didampingi oleh Rektor IAIN Ternate dan Penjabat Gubernur Maluku Utara, pembantu ketua STAIN Ternate bidang administrasi dan keuangan Dr H Jubair Situmorang, M.Ag dan para pejabat. Menteri dan rombongan lalu bertolak menuju Kota Ambon Provinsi Maluku.
Satu momen unik tersaji seusai mengantarkan Menteri Agama berserta rombongan ke Bandara Baabullah adalah saat hendak kembali pulang ke kampus. Lantaran kala itu, penulis memilih tidak bergabung dengan kendaraan dinas yang ditumpangi para pejabat, karena penulis ingin terlebih dahulu mencapai lokasi bandara untuk menunggu Menteri Agama beserta rombongan dengan tujuan mem-framing momen tersebut secara maksimal.
Namun’ saat hendak kembali pulang ke kampus, kejadian yang tak seperti biasanya terjadi. Dengan perasaan bahagia seusai pelantikan, Rektor Abd Rahman Ismail Marasabessy meminta untuk bermobil bersama ia dan pembantu ketua STAIN Ternate bidang administrasi dan keuangan H Jubair Situmorang.
Dari momen prosesi penjemputan Menteri Agama dan rombongan, serta terlibat meliput prosesi peresmian dan pelantikan Rektor hingga mengantarkan Menteri Agama kembali ke Bandara Baabullan itulah yang selalu tertancap kuat di benak penulis, sehingga di setiap awal tahun memantik penulis mengulik momen-momen bersejarah tersebut sebagai pengingat, agar sivitas akademika selalu memusatkan perhatian bekerja secara maksimal untuk kemajuan IAIN Ternate.
Sejarah Pendirian Fakultas Tarbiyah
Sebelum resmi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate, sebelumnya kampus ini bernama Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang Cabang Ternate.
Cikal bakal terbentuknya Fakultas Tarbiyah berdasarkan dokumen sejarah STAIN Ternate di Pusat Perpustakaan IAIN Ternate, menyebutkan bahwa ide pendirian Fakultas Tarbiyah di Ternate, bermula dari Menteri Agama Prof K.H Saifuddin Zuhri yang diteruskan kepada Panglima Busoiri di Ambon untuk membuka kampus IAIN di kota Ambon provinsi Maluku.
Setelah amanat tersebut diterima Panglima Busoiri, sang panglima kemudian menyampaikan ide dari Menteri Agama kepada Masyarakat di Kota Ambon, namun mereka kurang antusias. Sehingga, ide pembentukan IAIN, lalu di bawa ke Ternate melalui Komandan Kodim Maluku Utara yang saat itu dijabat Letkol Suwignyo.
Letkol Suwignyo kemudian menyampaikan kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Maluku Utara, M.S Djahir dan akhirnya terima.
Selanjutnya, ide pembentukan Fakultas Tarbiyah tersebut, Bupati M.S Djahir menyampaikan kepada Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Maluku Utara, Muhammad Albugis dan direspon positif dengan menyiapkan calon-calon mahasiswa dan calon dosen agama, serta unsur-unsur pendukung lainnya.
Sementara tenaga dosen pendidikan umum saat itu tidak menjadi kendala, lantaran ada sejumlah dosen dari Universitas Khairun Ternate, yang siap untuk membantu di Fakultas Tarbiyah.
Selanjutnya dibentuklah Yayasan Pembina Fakultas Tarbiyah, selain itu mereka juga menyelenggarakan rapat-rapat pemantapan, serta menyusun laporan kesiapan pembentukan Fakultas Tarbiyah.
Seusai rapat pemantapan, sejumlah berkas yang menjadi laporan kemudian disiapkan untuk di bawa ke Jakarta oleh Bupati M.S Djahir bersama Drs Jasin Muhammad dan Drs. Salim Assagaf pada september 1965 untuk bertemu dengan Menteri Agama Republik Indonesia.
Berada di Jakarta, Bupati M.S Djahir bersama tim pembentukan kala itu tidak menemui Menteri Agama, sehingga mereka berupaya bertemu dengan Kepala Biro Perguruan Tinggi Departemen Agama, Anton Timur Djaelani.
Dan’ beliau menyambut gembira dan menyarankan kepada Bupati M.S Djahir dkk, berkonsultasi dengan Pimpinan IAIN Alauddin Ujung Panjang yang baru dilantik oleh Menteri Agama pada 10 November 1965.
Sekembali dari Jakarta, Bupati M.S Djahir bersama tim menyepakati dan mengutus Bapak Baharuddin Lopa, SH (Kepala Kejaksaan Negeri Ternate) ke Ujung Pandang (sekarang Makassar) guna membicarakan kemungkinan Fakultas Tarbiyah di Ternate menjadi Cabang dari IAIN Alauddin Ujung Pandang, dan beliau sukses meyakinkan pimpinan IAIN Alauddin Ujung Pandang.
Setelah disetujui, maka Fakultas Tarbiyah resmi dibuka dan Bapak Baharuddin Lopa, SH dipercayakan sebagai Pjs Dekan. Setelah dipercayakan sebagai Pjs Dekan, beliau kemudian memanfaatkan ruang data kantor Bupati KDH Tingkat II Maluku Utara sebagai tempat perkuliahan, meskipun berstatus swasta namun kegiatan perkuliahan berjalan lancar karena partisipasi semua pihak, terutama Pemerintah Daerah Maluku Utara.
Setelah proses perkuliahan berlangsung, maka upaya proses penegerian pun dilakukan. Sehingga, disusunlah laporan lengkap tentang berdirinya Fakultas Tarbiyah dan disampaikan kepada Menteri Agama oleh Pjs. Dekan Fakultas Tarbiyah Baharuddin Lopa, SH dan mendapat persetujuan dari Menteri Agama untuk penegrian Fakultas Tarbiyah di Ternate.
Disertai dengan dikeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Republik Indonesia No. 45 tahun 1966 tertanggal 21 Juli 1966 tentang Pembentukan Panitia Persiapan Penegrian Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate yang diketuai oleh Baharuddin Lopa, SH.
Sedangkan Adnan Amal selaku Wakil Ketua, Drs. Husen Alhadar, sebagai Sekertaris I, Drs. A.K Syafar dan Junus Amiruddin, BSc adalah Sekertaris satu dan dua, sementara itu H. A Drakel selaku Bendahara satu, dan Syamsuddin Jusuf, serta Jasin Bopeng sebagai bendahara dua dan tiga dan didukung dengan sejumlah anggota.
Setelah persiapan rampung, maka Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. K.H Saifuddin Zuhri dan Rektor IAIN Alauddin Makassar, H. Arupala didampingi Drs. Jasin Muhammad ke Ternate dan melangsungkan acara peresmian Fakultas Tarbiyah Alauddin Makassar Cabang Ternate pada 3 November 1966 sekaligus melantik Drs. Husen Alhadar sebagai Pjs. Dekan menggantikan Baharuddin Lopa, SH.
Dan sekaligus dikeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama nomor 55/1966 tertanggal 31 Agustus 1966 sekaligus menandai bahwa Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar Cabang Ternate merupakan Cabang pertama dalam lingkungan IAIN Alauddin.
Berdasarkan dokumen Yayasan Pembina Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate, tercantum sejumlah nama yang kemudian disebut sebagai para tokoh pendiri di antaranya: M.S Djahir, Drs. A,K Sjafar, Junus Amiruddin, Bsc, M. Zen Assagaf, H. A. Drakel, Syamsuddin Yusuf, Jasin Bopen, H. Ahmad Hanafi, D.M. Usman Sjah, Drs. Idrus Hasan, Letkol Suwignyo, Husen Ammarie, Bsc, Muchdar Mustafa, Bsc, Samad Latif, BA, Jusuf A. Rahmat, BA, Idrus Assagaf, BA, A. Bahar Andili, BA, Abubakar Alhadar, Biahaqi Idrus, SH, Drs. Badri Saleh, Drs. Sunardi Kartawisastra, dan Mardiah Albaar.
Transformasi Menjadi STAIN
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate, pada awalnya adalah Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang di Ternate. Setelah dikeluarkan Keputusan Preiden RI Nomor 11 tahun 1997, maka Fakultas Tarbiyah resmi menjadi STAIN Ternate.
Sebab, isyarat dari Kepres tersebut bahwa seluruh Fakultas IAIN yang berada di luar induk (Ujung Pandang), maka ditetapkan sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Keputusan Presiden kemudian disertai dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Republik Indonesia nomor 314 tahun 1997 tentang Organisasi dan tata kerja STAIN Ternate, dan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor 247 tahun 1997 tentang Status STAIN Ternate.
Maka, secara resmi Fakultas Tarbiyah Alauddin di Ternate berubah status menjadi STAIN Ternate. Selain itu, diterbitkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama Republik Indonesia No.E/136/1997 tertanggal 30 Juni 1997, sekaligus menandai harta milik Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Ternate secara resmi menjadi milik STAIN Ternate.
Sepanjang perjalanan STAIN Ternate, diperhadapkan kemajuan lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan, maka berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan status dari STAIN menjadi IAIN untuk menjawab kebutuhan persoalan tersebut. Terlebih, di era Reformasi, di berbagai daerah berupaya mendirikan Perguruan Tinggi entah swasta maupun Negeri, sehingga persaingan antarperguruan tinggi sangat jelas terlihat.
Dan’ upaya yang dilakukan oleh tim alih status STAIN Ternate, kemudian direspon dengan diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2013 tentang perubahan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Ternate, menjadi Institut Agama Islam negeri Ternate.
Disertai dengan diterbitkan Peraturan Menteri Agama nomor 95 tahun 2013 tentang Organisasi dan tata kerja IAIN Ternate, maka pada 10 Januari 2014 IAIN Ternate diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali dan sekaligus melantik Dr. Abd. Rahman Ismail Marasabessy, M.Ag selaku Rektor, sehingga pada 10 Januari selalu dikenang sebagai hari bersejarah untuk IAIN Ternate.
Periodesasi kepemimpinan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar Cabang Ternate, STAIN hingga IAIN Ternate
Jika dirunut dari komposisi kepimpinan, sejak pertama kali Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang Cabang Ternate berdiri hingga resmi bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate pada tahun 2017, maka terdapat sejumlah nama yang mengisi posisi Dekan hingga Ketua STAIN.
Nama-nama tersebut di antaranya, Pjs Dekan Tarbiyah Bapak Bahruddin Lopa, SH (1965-1966), Drs H Husen Alhadar (1966-1977), Drs H Sahabuddin (1977-1987), Drs M Noor Sulaiman (1988-1994) dan Drs Abdullah DP, M.Ag (1995-2002).
Dari deretan nama-nama tersebut, tercatat proses transformasi dari Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang Cabang Ternate menjadi STAIN Ternate pada 1997 dan resmi menetapkan Drs Abdullah DP, M.Ag menjadi Ketua STAIN Ternate pertama ketika diterbitkan Keputusan Preiden RI Nomor 11 tahun 1997, Keputusan Menteri Agama (KMA) Republik Indonesia nomor 314 tahun 1997 tentang Organisasi dan tata kerja STAIN Ternate, dan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor 247 tahun 1997 tentang Status STAIN Ternate, serta Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama Republik Indonesia No.E/136/1997 tertanggal 30 Juni 1997.
Setelah Drs Abdullah DP, M.Ag sebagai Dekan dan sekaligus menjadi Ketua STAIN Ternate, periode selanjutnya dipimpinan oleh Yahya Abd Rahman Misbah, MA pada 2002-2006.
Di periode inilah, Yahya Abd Rahman Misbah disebut sebagai sosok penting pembangunan SDM di STAIN Ternate, lantaran di periode kepemimpinannya, para tenaga pendidik (dosen) diberi kesempatan untuk melanjutkan studi pada level lebih tinggi, yakni dosen yang berstatus sarjana diberi pilihan untuk meraih gelar Magister dan Doktor pada sejumlah perguruan tinggi; baik di kota Makassar, Jakarta dan Pulau Jawa.
Gebrakan yang digulirkan beliaulah, hingga sivitas akademika STAIN Ternate kala itu menaruh hormat dan menyanjungnya sebagai bapak pembangunan SDM di STAIN Ternate.
Tak hanya soal pengembangan SDM, melainkan perhatiannya juga tertuju pada pembangunan infrastruktur kampus, serta penataan birokrasi kampus dan membuka akses menerima mahasiswa sebanyak mungkin untuk pengembangan SDM di wilayah Moloku Kie Raha.
Namun, di tengah kesuksesan membangun SDM dan infrastruktur kampus, beliau memilih tidak lagi mencalonkan diri kembali pada periode kedua. Sehingga, tampuk kepemimpinan kala itu berganti ke tangan putra terbaik asal kabupaten Halmahera Timur, Drs H Abdjan Jahja, M.Ag di periode 2006-2010.
Sama halnya gebrakan yang dilakukan seniornya, Yahya Abd Rahman Misbah, sosok Low profile dan juga dikenal sebagai pimpinan Muhammadiyah Maluku Utara itu, menaruh perhatian penting terkait pengembangan SDM di STAIN Ternate hingga pembangunan infrastruktur kampus.
Terlebih di periode kepemimpinannya perhatian utama tertuju pada peningkatan kualitas lulusan. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan akreditasi prodi perdana untuk prodi-prodi STAIN Ternate yang dimulai dari sejumlah prodi pada jurusan Tarbiyah, yang kemudian disampaikan ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Penyusunan Borang Akreditasi perdana kala itu, dipimpin oleh kepala Education Management Information System (EMIS) STAIN Ternate, Drs Ramli Yusuf, M.Pd, yang beranggotan penulis serta sejumlah dosen di Jurusan Tarbiyah.
Bukan hanya perhatiannya tertuju pada peningkatan SDM tenaga pendidik dan kualitas mahasiswa. Perhatian yang sama pun ia tunjukkan untuk tenaga kependidikan di STAIN Ternate.
Melalui beasiswa pengembangan SDM, ia bersama Kabag administrasi STAIN Ternate Drs H Ibrahim Muhammad mendorong para tenaga kependidikan yang belum meraih gelar sarjana untuk melanjutkan studi ke jenjang strata satu (S-1), serta men-drive tenaga kependidikan untuk mengasah skill melalui kursus komputer pada lembaga komputer yang dibiayai STAIN Ternate. Melalui kebijakan inilah berbuah manis di era IAIN, tak kalah komposisi tenaga kependidikan yang rata-rata bergelar sarjana memberi nilai plus saat proses Re-Akreditasi prodi.
Selain perhatiannya terhadap pengembangan SDM tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, satu terobosan penting yang membuat namanya ikut terkerek dan dikenal luas oleh publik Maluku Utara sepanjang memimpin STAIN Ternate, yakni keberhasilnnya menghadirkan program pascasarjana (S-2) di STAIN Ternate pada 2006 silam.
Dengan dibukanya program pascasarjana, praktis menambah catatan-catatan sejarah yang ia torehkan untuk STAIN Ternate pada periode kepemimpinannya. Bukan hanya program pascasarjana, melainkan ia mengambil langkah maju untuk men-drive para tenaga pendidik di STAIN Ternate kala itu untuk memusatkan perhatian dalam transformasi STAIN ke IAIN.
Untuk langkah transformasi yang gaungkan kala itu memang terantuk dengan masa kepemimpinannya, sehingga belum berhasil ia wujudkan di periode kepemimpinan, dan dilanjutkan pada periode kepemimpinan selanjutnya, saat STAIN Ternate digawangi Abd Rahman Ismail Marasabessy dan berhasil meraih status IAIN Ternate pada 2014 silam.
Walaupun transformasi STAIN menjadi IAIN belum berhasil diwujudkan pada periode kepemimpinannya. Namun, gebrakan pengembangan SDM tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, serta dapat mewujudkan impian sivitas akademika STAIN Ternate dan publik Maluku Utara berhasil ia tuntaskan, yakni STAIN Ternate resmi memiliki program Pascasarjana (S-2).
Keberhasilan inilah yang kemudian dikenang sebagai terobosan penting dalam membangun pondasi pengembangan SDM di Maluku Utara, yang kemudian memantik para pimpinan IAIN Ternate pasca kepemimpinannya untuk menghadirkan program Doktor di IAIN Ternate.
Sama seperti periode kepemimpinan Yahya Abd Rahman Misbah, di periode kepemimpinan Abdjan Jahja (2006-2010) pun dinilai menghadirkan perubahan secara signifikan untuk STAIN Ternate. Namun, sayangnya ia lebih memilih tidak lagi mencalonkan diri kembali menjadi Ketua STAIN Ternate untuk periode selanjutnya, justru itu periodesasi kepemimpinan STAIN Ternate 2010-2014 berganti ke tangan Abd Rahman Ismail Marasabessy.
Di periode kepemimpinan Abd Rahman Ismail Marasabessy, selain ia menaruh perhatian terhadap pembenahan sarana prasarana dan membuka prodi baru, perhatian terhadap transformasi STAIN menjadi IAIN sebagaimana yang diimpikan pendahulunya, Abdjan Jahja, juga terus digaungkan pada setiap tahun.
Untuk penambahan prodi pada dua Jurusan: Tarbiyah dan Syariah, menghadirkan perubahan. Peningkatan jumlah mahasiswa baru pada setiap tahun. Hal inilah sangat berpengaruh dan memudahkan langkah transformasi STAIN menjadi IAIN pada 2014.
Walaupun upaya transformasi STAIN menjadi IAIN digaungkan pada periode kepemimpinan Abdjan Jahja, tapi dituntaskan oleh Abd Rahman Ismail Marasabessy, sehingga dengan capaian tersebut, menjadi catatan sejarah mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Fraksi Golkar Kabupaten Maluku Utara periode 1994-1995 itu.
Untuk transformasi STAIN menjadi IAIN kala itu melalui perjuangan tim alih status STAIN Ternate direspon positif hingga presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2013 tentang perubahan STAIN Ternate menjadi IAIN Ternate, disertai dengan diterbitkan PMA nomor 95 tahun 2013 tentang Organisasi dan tata kerja IAIN Ternate.
Transformasi STAIN menjadi IAIN ketika itu memang menjadi perhatian sebagai respon terhadap perkembangan zaman, dan kemajuan ilmu pengetahuan, maupun menjawab kebutuhan pasar, terlebih di Maluku Utara memiliki puluhan Perguruan Tinggi; baik swasta maupun negeri, sehingga persaingan antarperguruan tinggi sangat jelas terlihat.
Justru itu, target Abd Rahman Ismail Marasabessy bahwa STAIN Ternate sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan tertua di bumi Moloku Kie Raha, mampu bersaing dengan puluhan Perguruan Tinggi tersebut.
Setelah resmi menggenggam Perpres 54 tahun 2013 dan PMA 95 tahun 2013 dan disusul peresmian IAIN Ternate, sekaligus beliau dilantik sebagai rektor pertama IAIN Ternate dengan masa kerja 2014-2017.
Setelah resmi dilantik sebagai Rektor IAIN Ternate, berbagai terobosan yang dilakukan Abd Rahman Ismail Marasabessy pun berhasil, seperti bertambahnya sejumlah program studi, serta konon pengajuan pembukaan fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) merupakan langkah yang dilakukan pada periode kepemimpinannya. Walaupun begitu, kehadiran FEBI tepat di periode kepemimpinan Rektor Samlan Hi Ahmad tepat pada 2021 lalu.
Selain memusatkan perhatian pada pengembangan kelembagaan. Sebagai publik figur, sosok Abd Rahman Ismail Marasabessy sangat memahami pentingnya menjalin kerja sama atau menciptakan hubungan baik dengan media massa. Langkah ini dilakukan dengan tujuan segala kebijakan yang dibuat untuk pengembangan kampus, selalu ter-ekspose pada media; baik media cetak maupun media online, RRI dan TV lokal.
Dan, hal ini nyata terlihat sejak beliau menjadi Ketua STAIN maupun Rektor IAIN Ternate, kegiatan-kegiatan akademik maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) mendapat sorotan media. Sehingga, wajar disebut pada periode kepemimpinannya nama beliau dan IAIN Ternate dikenal luas di Maluku Utara. Terlebih beliau juga merupakan salah satu tokoh agama di Maluku Utara, karena menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Ternate 2006-2017, serta Ketua Bidang Pengkajian MUI Maluku Utara 2006-2015.
Peningkatan jumlah mahasiswa pada tiap tahun di periode kepemimpinannya, juga dinilai merupakan efek dari konsep media relations yang diterapkan semasa kepemimpinannya. Langkah ini dilakukan sebagaimana beliau sampaikan di hadapan menteri agama seusai ia dilantik sebagai Rektor, yaitu mengembangkan IAIN Ternate sebagai sebuah kelembagaan yang bisa menyentuh peradaban pada daerah Kepulauan di Maluku Utara.
Konsep media relations inilah yang membedakan beliau dengan sejumlah pimpinan lainnya, walaupun begitu, pasti ada kelebihan dan kekurangan dalam hal kepemimpinan dari sudut pandang sivitas akademika. Dan, tentu pola pengembangan lembaga dari tiap-tiap pimpinan sangat berbeda. Namun, pada prinsipnya mengarah pada satu tujuan yaitu mewujudkan perubahan untuk IAIN Ternate.
Sama halnya yang dilakukan Abd Rahman Ismail Marasabessy ketika memimpin IAIN Ternate, disaat IAIN Ternate dinakkodai Samlan Hi Ahmad pada periode 2017-2021, berbagai catatan positif terkait pengembangan lembaga pun ia torehkan.
Langkah pertama yang dilakukan saat memimpin IAIN Ternate adalah pembebasan lahan yang diproyeksikan untuk pembangunan kampus II di kelurahan Gambesi kecamatan Ternate Selatan.
Gebrakan soal pembebasan lahan akhirnya berbuah manis di tahun 2024, saat tongkat kepemimpinan berganti ke Radjiman Ismail, dan dituntaskan dengan pembangunan kampus II. Di bidang akademik, langkah nyata yang digulirkan memberi kepastian soal peningkatan kualitas pembelajaran pada setiap fakultas dan program pascasarjana.
Selain perhatian terhadap pengembangan lembaga, di periode kepemimpinannya pun menuai pujian, tak kala ia mempercayai Dr Basaria Nainggolan, M.Ag menahkodai Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, sekaligus menegaskan bahwa di periode kepemimpinannya dua sosok perempuan mengisi jabatan strategis, yakni Dr Marini Abd Djalal, M.H.I sebagai Wakil Rektor bidang administrasi dan keuangan serta Dr Basaria Nainggolan, M.Ag sebagai Dekan FSEI.
Untuk kerja sama kelembagaan pun mendapat perhatian penting, saat ia menjajaki kerja sama dengan sejumlah Perguruan Tinggi di provinsi Maluku Utara, maupun di luar Maluku Utara. Begitupun terkait bidang pengabdian kepada masyarakat, di periode kepemimpinannya, sejumlah desa ditetapkan sebagai desa binaan IAIN Ternate.
Sementara di bidang infrastruktur, renovasi Auditorium Institut dan pembangunan gedung FEBI menambah catatan sejarah kepemimpinannya di periode 2017-2021.
Jika di periode kepemimpinan STAIN Ternate, dua sosok yang disebut sebagai peletak dasar pengembangan kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM), yakni Yahya Abdurahman Misbah, Lc., MA dan Drs H Abdjan Jahja, M.Ag.
Lalu langkah perubahan digebrak secara gradual oleh Dr Abd Rahman Ismail Marasabessy, M.Ag dan Dr Samlan Hi Ahmad, M.Pd, maka langkah pengembangan kelembagaan disempurnakan oleh Prof Dr Radjiman Ismail, M.Pd.
Di periode ini berbagai langkah strategis pengembangan akademik dan kelembagaan menuai pujian publik, setelah dianggap berhasil menghadirkan angin perubahan untuk IAIN Ternate. Seperti program akselerasi guru besar, dan peningkatan SDM, serta pembangunan infrastruktur, dan mendorong program studi di setiap fakultas untuk raih predikat akreditasi Baik Sekali dan Unggul hingga kehadiran Program Doktor.
Gebrakan pertama pasca dilantik sebagai rektor IAIN Ternate periode 2022-2025 adalah mengusung program akselerasi guru besar di IAIN Ternate. Langkah ini dilakukan untuk mendorong para tenaga pendidik berpacu meraih jabatan tertinggi akademik sebagai guru besar. Terbaru di tahun 2025, ada sejumlah tenaga pendidik didorong untuk konsentrasi meraih gelar guru besar.
Dari 5 tenaga pendidik yang diusulkan pada tahun 2023 lalu termasuk dirinya, akhirnya ia terlebih dahulu resmi dinaikkan jabatan akademiknya menjadi Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Teknologi Pendidikan pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ternate.
Setelah ia menyandang status sebagai Guru Besar, langkah selanjutnya yakni meminta seluruh Dekan dan Direktur Pascasarjana serta para pimpinan unit di IAIN Ternate tampil sebagai sentral tentakel untuk mengontrol dan menggerakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan bekerja secara maksimal demi target yang telah dicanangkan: tingkatkan kualitas layanan akademik dan mendongkrak kualitas mahasiswa.
Selain itu, upaya terkait pengembangan lembaga yang setiap saat didengungkan, akhirnya direalisasikan melalui skema pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), yakni pembangunan kampus II IAIN Ternate di kelurahan Gambesi kecamatan Ternate Selatan. Pembangunan Kampus II menjadi perhatian demi mewujudkan langkah transformasi IAIN menjadi UIN Sultan Baabullah (UIN SUBA) Ternate.
Dan’ di periode inilah, satu catatan manis ditorehkan dan bakal menjadi kenangan indah sivitas akademikan IAIN Ternate, yakni IAIN Ternate bekerjasama dengan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat, Kementerian Agama untuk melakukan penerjemahan Alquran bahasa Ternate.
Jika di beberapa periode sebelumnya, fokus kerja sama lebih terkonstrasi secara regional dan nasional, maka di periode kepemimpinan Radjiman Ismail, IAIN Ternate terus melebarkan kerja sama; baik dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota di Maluku Utara hingga go Internasional, yakni menjalin kerja sama dengan sejumlah Perguruan Tinggi di Asia hingga Timur Tengah.
Seperti pada 2023 lalu, IAIN Ternate menjalin kerja sama dengan dua Perguruan Tinggi di Malaysia, yakni Universiti Malaysia Serawak (UNIMAS) dan Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia.
Begitupun sama halnya, kerja sama level internasional kembali menjadi perhatian, yakni IAIN Ternate menjalin kerja sama dengan Zaqra University Jordan, kerja sama ini menjadi langkah strategi pengembangan SDM di IAIN Ternate, serta membuka ruang untuk mahasiswa dan tenaga pendidik (dosen) go Internasional.
Aspek lain yang tak kalah menarik dari gebrakan yang dilakukan Radjiman Ismail sepanjang periode kepemimpinannya adalah mendorong setiap pimpinan fakultas, untuk memusatkan perhatian dalam meningkatkan status Re-akreditasi pada setiap prodi.
Gebrakan ini memantik seluruh pimpinan fakultas dan Direktur Pascasarjana bergerak seirama, yakni mengamini instruksi untuk mendorong para koordinator prodi bekerja secara maksimal untuk satu tujuan tingkatkan status prodi.
Langkah ini akhirnya berbuah manis, tatkala Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) membuka jalan dan tampil menginspirasi, pasalnya prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai prodi tertua di IAIN Ternate berhasil meraih akreditasi Unggul.
Akreditasi Unggul untuk prodi PAI tersebut tertuang dalam Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) Nomor: 266/SK/LAMDIK/Ak/S/III/2024 tertanggal 04 Maret 2024.
Bukan hanya prodi PAI, melainkan FTIK IAIN Ternate kembali meraih akreditasi unggul untuk dua program studi di tahun 2025, yakni prodi pendidikan guru madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan prodi manajemen pendidikan Islam (MPI).
Dua prodi tersebut meraih akreditasi Unggul berdasarkan Surat Keputusan LAMDIK bernomor 584/SK/Lamdik/Ak/S/V/2025 tertanggal 6 Mei 2025 yang menerangkan perihal prodi PGMI meraih akreditasi unggul dengan nilai 364. Sementara SK dengan nomor 602/SK/Lamdik/Ak/S/V/2025 untuk prodi MPI yang mengantongi nilai 362.
Sementara untuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sebagai fakultas termuda di IAIN Ternate juga menjawab impian Rektor Radjiman Ismail, melalui pelaksanaan Re-Akreditasi prodi Ekonomi Syariah berhasil berhasil mengantongi predikat Baik Sekali.
Pencapaian FEBI di penghujung 2025, menegaskan bahwa upaya Rektor Radjiman Ismail dapat dituntaskan dengan skema kerja sama yang baik lintas fakultas dan semua unit pelaksana di IAIN Ternate.
Bukan hanya perhatian utama soal peningkatan status prodi, melainkan aspek pembelajaran dari tahun ke tahun pun menjadi fokus perhatian, yakni sistem pembelajaran dirancang untuk adaptasi dengan perkembangan teknologi, seperti ruang kelas yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi digital guna mendukung pembelajaran yang lebih terintegrasi antara visual, audio dan kinestetik.
Dan’ fokus perhatian pada sistem pembelajaran diwujudkan pada tahun 2026 mendatang, setelah fasilitas pembelajaran menggunakan Smart classroom dituntaskan pada tahun 2025.
Selain proses pembelajaran dengan menggunakan Smart classroom, terobosan lainnya yang dilakukan Rektor IAIN Ternate Radjiman Ismail adalah menerapkan sistem pembelajaran di kampus I dan II dengan sistem Hybrid learning, yang merupakan sebuah model pembelajaran untuk menyatukan proses kegiatan belajar mengajar secara online dengan tatap muka langsung dengan memanfaatkan teknologi.
Hal ini menghadirkan perubahan nyata untuk IAIN Ternate, dengan tujuan membawa IAIN Ternate berkembang jauh lebih baik, serta dapat menuntaskan misinya melahirkan SDM unggul dari IAIN Ternate untuk masa depan Maluku Utara.
Soal target SDM unggul pun menjadi perhatian pada setiap tahun, dengan menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah kabupaten dan kota, untuk memusatkan perhatian dalam membantu meringankan biaya studi mahasiswa yang melanjutkan studi di IAIN Ternate.
Satu hal yang juga tercatat sebagai pencapaian Radjiman Ismail sepanjang periode 2022-2025 adalah ditetapkan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana di tahun 2025 sebagai prodi penerima mahasiswa peraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Untuk transformasi kelembagaan, melalui kolaborasi dan dukungan segenap keluarga besar IAIN Ternate, saat ini dokumen alih status IAIN menjadi UIN Sultan Baabullah Ternate telah disampaikan ke Kementerian Agama untuk dilakukan pengkajian lebih lanjut.
Langkah ini dilakukan dengan tujuan menuntaskan impian keluarga besar IAIN Ternate serta masyarakat Maluku Utara, untuk melihat kampus tertua di wilayah Indonesia bagi Timur ini bertransformasi dan bergerak lebih cepat meraih status Universitas.
Walaupun target yang gaungkan. Alih status, hingga penghujung tahun 2025 belum dapat terwujud. Namun, di akhir periode kepemimpinan Radjiman Ismail sebuah langkah besar berhasil diwujudkan, yakni menghadirkan program Doktor di IAIN Ternate sebagai kado spesial Dies Natalis ke-12 IAIN Ternate di tahun 2026. (*)
== Selamat Ulang Tahun ke-12 Almamater Tercinta IAIN Ternate, semoga terus menumbuhkan bibit-bibit unggul generasi bangsa yang terbaik, dan tetap menjadi pilihan bagi masyarakat yang menimba ilmu. ==