• Institut Agama Islam Negeri Ternate Indonesia

Perdana Jadi Irup Upacara HAB di IAIN Ternate, Kabiro AUAK Jamaluddin Bugis Ajak Sivitas Akademika IAIN Ternate Rawat Kerukunan Umat Beragama

Perdana Jadi Irup Upacara HAB di IAIN Ternate, Kabiro AUAK Jamaluddin Bugis Ajak Sivitas Akademika IAIN Ternate Rawat Kerukunan Umat Beragama

Keterangan Foto: Suasana pelaksanaan upacara peringatan Hari Amal Bhakti Ke-80 Kementerian Agama RI di IAIN Ternate, Sabtu (3/1/2026).

 
TERNATE – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Maluku Utara menggelar upacara peringatan Hari Amal Bhakti ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, dipusatkan di lapangan upacara IAIN Ternate, pada Sabtu (3/1/2026). 

Upacara HAB kali ini terlihat berbeda seperti biasanya, pasalnya yang bertindak selaku inspektur upacara (Irup) bukan Rektor melainkan Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK) Jamaluddin Bugis 

Hal ini dilakukan lantaran masa jabatan Rektor IAIN Ternate Prof Radjiman Ismail telah berakhir pada 31 Desember 2025. Sehingga, diputuskan Kabiro AUAK tampil sebagai Irup HAB ke-80 Kemenag tahun 2026. 

Upacara HAB ke-80 yang berlangsung tepat pukul 7.30 wit dengan mengusung tema Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju dihadiri seluruh sivitas akademika IAIN Ternate berjalan khidmat dan lancar. 

Kabiro AUAK IAIN Ternate Jamaluddin Bugis dalam amanatnya, membacakan sambutan Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan tema HAB ke-80 Kemenag di tahun 2026 menghadirkan pesan kuat tentang kerukunan demi mewujudkan Indonesia Damai dan Maju. 

“Bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan,” katanya. 

“Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dirajut menjadi kekuatan kolaboratif untuk menggerakan kemajuan bangsa,” sambungnya. 

Mantan Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku itu menerangkan, berdasarkan catatan sejarah, kehadiran Kementerian Agama bukan semata lahir dari tuntutan sosiologis, melainkan merupakan kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. 

Republik ini, lanjut dia, tidak dibangun oleh satu golongan, melainkan oleh sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini. 

“Para founding fathers Kementerian Agama meletakkan cita-cita besar, agar lembaga ini berkontribusi nyata dalam membina kehidupan keagamaan yang damai, sekaligus membuka jalan selebar-lebarnya bagi terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan Sejahtera,” terangnya. 

Jamaluddin mengatakan, usia Kementerian Agama ke-80 menegaskan bahwa Kemenag didirikan sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Untuk itu, lanjut dia, peran Kemenag semakin luas dan semakin krusial, yakni meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, serta merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan. 

Selain itu, Kemenag kata dia, juga memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa. 

“Sepanjang tahun 2025, kita telah bekerja keras membangun fondasi “Kemenag Berdampak”. Hal ini membuktikan bahwa semangat keluarga besar Kemenag bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang hasilnya mulai dirasakan oleh umat,” ucapnya. 

“Transformasi digital yang kita lakukan secara masif juga telah menghadirkan layanan keagamaan yang lebih dekat, transparan, dan cepat,” imbuhnya. 

Selain itu, Kemenag lanjut dia, juga memperkuat fondasi ekonomi umat melalui ribuan pesantren, serta pemberdayaan ekonomi sosial keagamaan seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, diakonia, derma/kolekte, dana punia, dana paramita dan dana Kebajikan. 

“Program-program tersebut tidak hanya mendorong kemandirian lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara umum,” ujarnya. 

Sementara di bidang pendidikan yang meliputi pendidikan madrasah, sekolah keagamaan dan perguruan tinggi keagamaan, mantan Kabiro AUAK IAIN Ambon itu bilang, grafiknya kualitasnya menunjukkan tren positif, sehingga pendidikan keagamaan tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua. 

“Inovasi kurikulum dan penguatan sarana prasarana telah menempatkan institusi pendidikan Kementerian Agama sejajar dengan standar pendidikan lain, bahkan ada yang melebihi,” paparnya. 

“Untuk program desa sadar kerukunan, Kemenag juga memindahkan wacana kerukunan dari ruang seminar menuju praktik nyata di tengah masyarakat,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Jamaluddin mengungkapkan, semua ikhtiar yang dilakukan Kemenag melalui gebrakan Menag Nasaruddin Umar menegaskan satu komitmen, yakni setiap langkah dan kebijakan Kemenag harus menghadirkan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, sehingga bukan sekadar urusan administrasi dan birokrasi. 

Selain itu, Kemenag kata Jamaluddin, juga merespon tantangan zaman dengan menengok kembali lembaran sejarah peradaban. Di mana agama pernah menjadi sumber pencerahan dunia yang luar biasa. 

“Kita mengenang Baitul Hikmah pada abad pertengahan sebagai pusat intelektual global pada masanya. Ia bukan sekadar perpustakaan, melainkan pusat riset dan penerjemahan raksasa yang menjawab persoalan kehidupan melalui ilmu pengetahuan,” terangnya. 

“Di sanalah nilai-nilai agama berpadu dengan rasionalitas untuk memajukan peradaban manusia. Untuk itu, semangat inilah yang perlu kita hidupkan kembali di era sekarang,” imbuhnya. 

Jamaluddin bilang, umat manusia kini menghadapi tantangan besar bernama Artificial Inteligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sehingga, hidup di era VUCA-Volatility, Uncertainy, Complexity dan Ambigu, manusia diperhadapkan pada perubahan yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, serta kompleks dan penuh ketidakpastian. 

“Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus memiliki kedaulatan Artificial Inteligence,” katanya. 

Dia menambahkan, dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka diharapkan kepada seluruh ASN Kemenag harus mampu mewarnai substansi Artificial Inteligence dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk dan mencerahkan. 

“Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal, agar menjadi sarana pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,”tegasnya. 

Jamaluddin juga menegaskan bahwa untuk mewujudkan visi besar Kemenag, maka setiap ASN Kemenag dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang agile (kemampuan untuk bergerak dengan cepat dan mudah, red), lincah, dan sigap menghadapi perubahan, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsive, cepat melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas. 

“Nilai-nilai ini sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu kita aktualkan kembali dalam konteks zaman,” ujarnya. 

“Sesuai tema HAB ke-80, marilah kita satukan tekad. Sebab, dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” pungkasnya. 

Sekadar diketahui, pelaksanaan upara HAB ke-80 Kemenag di IAIN Ternate juga dirangkaikan dengan pemberian hadiah perlombaan memperingati HAB, serta undian puluhan door prize untuk keluarga besar IAIN Ternate. (*)